Haruskah Aku Menjadi Guru
Sekitar 39 tahun silam, selalu terdengar di telingaku bahwa menjadi guru itu baik dan tak pernah dilupakan oleh siswanya, ku sadari bahwa sesungguhnya menjadi guru sangat sulit, belum lagi kalau siswa-siswinya pada bandel dan sebagainya. Saya sejak menjadi siswa di sekolah, sebut saja nama sekolahnya yakni Sekolah Dasar Negeri 12 Palu Barat, melihat bahwa ternyata ada siswa yang nakal yang suka sekali usil pada guru-guru yang ada, namun tentunya ada pula siswa-siswi yang baik.
Saat itu ada guru yang bernama Ibu Hartati masuk dalam kelas dan membawakan mata pelajaran aahhh saya lupa mata pelajaran yang di ajarkan, sebelum mengajar beliau memanggil satu persatu siswa-siswi yang ada dalam kelas untuk maju kedepan kelas dan bertanya apa cita-cita kami semua, banyak diantara teman-teman ingin menjadi guru, saat tiba giliran saya diam dan tidak tahu apa yang harus sampaikan pada ibu guru dan teman-teman namun sekita saja saya sebutkan ingin menjadi seorang TNI, selesai itu kami belajar sampai bel istirahat berbunyi.
Tingkatan demi tingkatan penulis lakukan dan pada akhirnya saya selesai pada tingkat SMA, kusadari bahwa cita-cita yang saya sampaikan pada saat tingkat sekolah dasar itu masih tersimpan dengan baik di otak saya, selesai maka saya memberanikan diri untuk mendaftar dan saat itu terbuka pendaftaran penerimaan TNI, ada lolucon sedikit yang penulis alami, inginnya daftar di TNI angkatan darat, ternyata penulis salah pilih yakni masuk di TNI angkatan laut, dan itu tidak mungkin di anulir lagi, ya mau tak mau penulis harus ikut seleksinya, ya apa yang mau dikata karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga penulis tidak berhasil masuk TNI. Karena penulis tidak menyerah, penulis mencoba lagi di BPLP di makassar dan AIPI ini juga tidak berhasil, sehingga penulis putuskan untuk lanjut pendidikan dan kebetulan saat itu ada penerimaan mahasiswa jurusan baru di UNHAS yakni Pengarsipan, lagi-lagi bukan Reski sehingga penulis tidak lanjut.
Sesaat penulis ingin balik ke Kendari, tiba-tiba ada informasi kalau penulis di panggil oleh orang tua perempuan untuk ke Palu Sulawesi Tengah, karena sejak penulis tamat pada tingkat SMP di palu, penulis sudah merantau.
Sedikit mengulas kebelakang, Pada tahun 1980 an penulis bersama orang tua perempuan, adik 2 orang merantau ke palu karena saat itu yang dikenal maju adalah Kabupaten Donggala sekarang, perjalanan menuju palu saat itu kurang lebih 1 Minggu di karenakan jalan yang di lalu sangat tidak memungkinkan untuk dilalui, sampai-sampai roda mobil menggunakan rantai, singkatnya kami sampai dan SD dan SMP tamat di Palu.
Saat bertemu dan berkumpul kembali dengan orang tua perempuan dan adik-adik, ada masukan yang disampaikan kalau boleh penulis lanjut saja di palu kembali dan masuk di STAIN Palu yang sekarang telah menjadi UIN Datokarama Palu, sebagai anak yang berbakti yang tidak mungkin menolak permintaan orang tua, maka penulis mencoba mendaftar kampus tersebut, penulis tidak tahu jurusan apa yang harus di pilih, tiba-tiba ikut saja pilihan teman yang kebetulan memang merupakan teman akrab saat di SD dan SMP. Jurusan yang penulis pilih adalah jurusan Tarbiyah (Pendidikan Agama Islam), di bangku perkuliahan lah penulis mengenal bagaimana menjadi seorang guru, emang sih awalnya tidak respek dengan perkuliahan, namun lama-kelamaan akhirnya tertarik. Belum lagi nasehat-nasehat yang diberikan oleh dosen-dosen yang ada sehingga penulis menekuni jurusan tersebut.
Ternyata menurut penulis bahwa menjadi guru adalah sebuah bisikan nurani.
Guru merupakan panggilan kepada orang-orang tertentu, karena menjadi guru itu harus ikhlas, sabar dan tabah serta siap menerima keritikan dari manapun.
Jika di tanyakan sejak kapan penulis jadi guru? Memaknai pertanyaan tersebut maka siapapun yang mengajarkan satu huruf saja maka ia adalah guru dan sejak penulis masa kanak-kanak dan selalu mengajari teman-teman penulis sudah menjadi guru.
Tolis, 11 Juni 2022
Komentar
Posting Komentar